ASO adalah penghentian siaran TV analog yang sepenuhnya dialihkan ke siaran TV digital. Yang dapat memberikan keuntungan maupun ketidakpraktisan di masyarakat.
gitaramandaaz-zahra.blogspot.com - Siaran TV analog sudah bertahap untuk diberhentikan siarannya secara menyeluruh dan digantikan dengan siaran TV digital secara serentak mulai pada 2 November 2022 tahun lalu.
Pergantian serentak dari analog ke digital perlu dilakukan mengingat perkembangan dunia teknologi digital semakin maju dan canggih, hal ini yang menjadi salah satu faktor dilakukannya migrasi analog ke digital.
Analog Switch Off (ASO) merupakan tugas Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang sesuai dengan Pasal 60A UU Cipta Kerja. Tentunya masyarakat juga sudah harus mempersiapkan perangkat yang diperlukan karena peralihan TV analog ke TV digital ini.
Seperti Wartini, seorang ibu rumah tangga yang bertempat tinggal di daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan mengungkapkan bahwa dirinya suka menonton TV dan sudah mempersiapkan diri pada terpaan digital penyiaran dengan membeli Set Top Box (STB).
“Kalau saya sih sudah mempersiapkan dari jauh hari, karena saya masih suka nonton TV jadi saya beli duluan sebelum orang-orang pada beli. Karena nanti jika sudah dimatikan TV analognya, ga bisa nonton TV lagi” ungkap Wartini saat diwawancarai pada Sabtu, (11/3).
Hadirnya penyiaran digital memberikan kualitas lebih baik seperti gambar lebih bersih, suara lebih jernih, tidak perlu menggunakan kuota data internet dan tidak perlu membayar langganan tiap bulannya.
Selain itu, Wartini yang mendapatkan keuntungan saat menggunakan STB, merasakan langsung perbandingan saat memakai TV analog dengan TV digital, yaitu nyaman, kualitas gambar dan suara yang lebih baik.
“Ada untungnya juga pakai STB, gambar sama suara jauh lebih baik.. Nyaman gitu dimata, saya yang ngeliatnya jernih dan ga bikin pusing. Kalo TV analog dulu ada semutnya karena ga dapet sinyal bagus dan ga nyaman dimata” ujar Wanita kelahiran Jawa Tengah itu.
Berbeda dengan Sumiati, seorang ibu rumah tangga yang memiliki kedai nasi uduk di daerah Ciganjur, Jakarta Selatan, tidak mempersiapkan peralatan saat ASO disosialisasikan. Sumiati mengatakan bahwa harga STB sangatlah mahal mengingat pekerjaan sehari-harinya berjualan nasi uduk, memilih untuk mementingkan beli beras.
“Saya ga nyiapin pas ASO udah dikasih tau, karena saya juga harus ngumpulin uang dulu buat beli STB. Saya kan cuma jualan nasi uduk untuk melengkapi kehidupan sehari saya, mendingan saya beli beras daripada STB itu. Ya.. akhirnya saya baru bisa kebeli pas TV analog sudah diputuskan siarannya” ungkap Sumiati saat diwawancarai pada Sabtu, (11/3).
Lebih lanjut, Sumiati menyebutkan bahwa STB tidak praktis, harus menggunakan dua remot dan membutuhkan biaya lagi ketika saat ingin menggunakannya, seperti membeli antena kemudian membiayai orang untuk pemasangan peralatan tersebut.
“Pake STB malah lebih ribet menurut saya, harus ganti remote dan perlu uang banyak.. Saya harus beli antena lagi, biayain pas alatnya itu dipasang dirumah saya, ya kan dirumah ga ada yang bisa masang jadi minta pasangin” ujar Wanita yang memiliki tiga anak itu.
Selain itu, Sumiati juga mengungkapkan bahwa dengan adanya STB dirinya tidak pernah lagi menonton TV, karena sudah tidak tertarik dan membuatnya tidak tahu berita yang sedang hangat di Indonesia.
“Tapi pas udah beli STB saya ga mau lagi nonton TV, karena saya nge rasanya ribet. Makanya saya ga tau dunia berita di TV yang baru apaan aja, saya gatau” tutup Sumiati.
Hadirnya digital penyiaran memberikan keuntungan maupun ketidakpraktisan bagi masyarakat. Adapun beberapa faktor mengapa digital penyiaran ini bisa memberikan keuntungan maupun ketidakpraktisan.
Masyarakat dengan kecukupan untuk biaya hidupnya akan merasakan bahwa terpaan digital penyiaran bukanlah hal yang besar, dan mampu untuk membeli STB. Beberapa masyarakat yang sadar dan menyukai akan merasakan langsung keuntungan yang didapatkan, ketika beralih ke digital penyiaran.
Sedangkan masyarakat yang kurang mampu akan merasakan kesulitan untuk mengeluarkan biaya dalam menghadapi digital penyiaran, membutuhkan waktu lebih lama agar bisa membeli STB. Yang terpenting adalah kehidupan sehari-harinya, merasa tidak wajib untuk beralih pada digital penyiaran karena akan terasa sama saja.
Beberapa masyarakat yang merasakan ketidakpraktisan saat sudah beralih pada digital penyiaran, perlu biaya lebih karena tidak tahu cara memasangnya, membutuhkan pergantian peralatan dan antena yang memadai saat menggunakan STB.
Hingga saat ini masih banyak masyarakat khususnya menengah kebawah yang belum beralih pada penyiaran digital, salah satu faktornya adalah harga STB yang sangat mahal dan harus mencocokan kembali antena Ultra High Frequency (UHF).
Beberapa masyarakat masih menggunakan TV tabung dimana jika harus membeli STB, harganya tidak sebanding dengan TV yang mereka punyai.
Penulis : Gita Ramanda Az-Zahra
Sumber Foto : Data Pribadi